Urban Legend Surabaya: Stasiun Semut

Minggu ini Lintang berkunjung ke kota Surabaya. Biasa, urusan kerja. Tak lupa, hanya untuk sobat Hantupedia, Lintang mempersembahkan hasil liputan Lintang di kota tersebut. Maksudnya sih, untuk oleh-oleh. Sobat Hantupedia boleh percaya boleh tidak, kota ini penuh dengan makhluk tak kasat mata, salah satunya urban legend Surabaya stasiun semut.

Stasiun semut

Kota Surabaya adalah kota terbesar ke dua di Indonesia. Sejarahnya yang luar biasa membuat kota ini penuh dengan Urban Legend Surabaya. Salah satunya adalah stasiun kota Surabaya atau biasa dikenal sebagai Stasiun Semut.

Karena Lintang berangkat dari Blitar, kereta Lintang tidak merapat di Gubeng tapi di stasiun kota. Penasaran juga kenapa stasiun ini jadi bagian dari urban legend surabaya.Banyak sekali penumpang yang sudah menunggu kereta kami. Saat pertukaran penumpang, stasiun menjadi sangat ramai. Hal yang paling mengherankan adalah banyak sekali diantara mereka yang menggunakan kebaya dan Jas dengan hiasan lipatan saputangan khas fashion awal tahun 1900 an. Rambut sang nyonya disanggul, bawa kipas dan selendang di lampirkan. Sedang sang tuan pake jas dengan topi bundar. Kalau mau jujur, fashion mereka benar-benar keren hanya saja tampak salah jaman. Sepertinya mereka adalah makhluk – makhluk yang terjebak di tahun tersebut.

Bertemu makhluk tak kasat mata

Dalam keramaian itu, Lintang melihat satu sosok makhluk yang agak aneh. Syukurnya makhluk ini muncul dengan bentuk seperti manusia. Badannya lusuh seperti tidak mandi berbulan-bulan. Wajahnya kotor dan rambutnya gondrong tidak rapi dan yang paling tidak tahan, ampun, bau badannya, bikin orang mau pingsan.  Dia seperti orang yang mencari seseorang. celingak-celinguk tidak jelas seperti pencopet mencari mangsa. Tapi, masa sih, makhluk gaib juga kena copet?

Karena penasaran, Lintang dekati saja makhluk itu. Setelah memanggil beberapa kali barulah makhluk itu sadar bahwa Lintang memanggilnya.

Makhluk ini tidak ramah, Lintang disuruh pergi agar tidak mengganggunya. Tapi setelah Lintang bujuk akhirnya mau juga diwawancara sebentar.

Dia mengaku bernama Tole Nglandang. Nama yang aneh, tapi anggap saja itu benar.  Dia hanya berkata bahwa dia penunggu stasiun semut dan bawahan sang penguasa daerah tersebut. Dia penduduk asli Surabaya. Sudah beratus-ratus tahun ia tinggal di Surabaya.

Dia bercerita bahwa tuan dan nyonya yang tadi berangkat dan datang dengan kostum jadul tadi adalah makhluk gaib yang meniru orang-orang dimasa lampau. Mereka senang meniru fashion unik berdasarkan jaman tertentu atau bahkan meniru sosok seseorang yang mereka kenal namun sudah lama meninggal. Mereka adalah para urban legend Surabaya dengan keunikan mereka sendiri.

Tugas Tole Nglandang adalah menyesatkan orang yang suka nglamun di stasiun, membuat mereka terlambat naik atau salah kereta. Hal yang paling baik kalau orang tersebut jadi kehabisan uang. Bisa Nglandang bersama Tole. Kadang mereka bisa naik kereta gaib ke madiun bersama pejuang sebelum kemerdekaan. 

Tole Nglandang ternyata mau berbagi cara menghindarinya. Jika soba Hantupedia tidak ingin diganggu olehnya. Tetap waspada, berdoa, tetap fokus dan tidak melamun dalam  perjalanan anda dimana pun sobat Hantupedia berada. Tidak fokus ini yang menjadi kesempatan bagi tole Nglandang untuk mengacaukan pikiran sobat semua.

Perpisahan

Sayang tiba-tiba ada ibu yang menegur Lintang. Ibu itu bertanya mengapa Lintang ngobrol sendiri. Lintang jawab saja Lintang sedang nelpon pakai earphone. Saat Lintang berbalik menghadap tole Nglandang lagi, makhluk itu sudah pergi.

Hari sudah menjelang magrib, sebaiknya Lintang menuju ke Hotel tempat Lintang menginap. Kita lanjutkan lain kali wawancara dengan makhluk di urban legend lainnya.