Moksa: Lenyapnya Pendiri Dinasti Hingga Perwira Peta, Supriyadi

moksaMoksa sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang sama penulisannya. Sejauh ini, Moksa selalu diartikan sebagai jalan untuk menghilang atau melepas diri dari duniawi. Ajaran moksa sendiri diambil dari agama Hindu-Budha di Nusantara. Moksa diyakini sebagai jalan bertemu dengan Sang Hyang Widi. Terlebih, manusia akan terlepas dari siksa reinkarnasi yang membuat manusia merasakan lapar, sakit, tua, dan mati. Di Nusantara, kala ajaran hindu dan Budha menjadi rajanya pengetahuan. Beberapa tokoh penting pendiri kerajaan di jawa dipercayai melakukan moksa dengan seluruh kekuasaannya.

Prabu Siliwangi dan Tapa Bratanya di Gunung Lawu

Tokoh pertama adalah Prabu Siliwangi V. Sang prabu dulunya adalah raja di Majapahit dan memutuskan moksa kala Kerajaan Kediri berhasil menguasai kekuasaannya. Sang Prabu pun meninggalkan daerahnya dan menemui cucunya, yakni Sunan Kalijaga. Sang Prabu meminta Sang Sunan untuk mengislamkannya. Konon, pasca menjadi mualaf, Prabu Siliwangi V melakukan tapa bratanya di area Gunung Lawu.

Patih Gadjah Mada yang ditengarai juga melakukan Moksa

Kedua, tokoh Gajah Mada ialah seorang mahapatih di kerajaan majapahit Hindu. Dalam versi yang menceritakan hidupnya, terdapat dua versi kematiannya yang saling bertolak belakang. Dalam versi pertama, sang mahapatih meninggal karena penyakit di sekitar tahun 1364. Beliau meninggal tidak berselang lama pasca dijenguk oleh Prabu Hayamwuruk. Kematiannya tidak lain karena kegagalannya mengalahkan kerajaan tanah Sunda dalam perang Bubat. Dalam versi pertama berdasarkan kakawin Kartagama, versi kedua diambil menceritakan bahwa Gajah Mada disebutkan sebagai orang yang bertanggungjawab atas meninggalnya Dyah Pitaloka.

Alasannya, si putri melihat negerinya diagresi oleh Gajah Mada hingga luluh lantak dan menewaskan sang raja. Melihat yang demikian, sang putri pun melakukan bunuh diri. Secara tidak langsung, hal tersebut menyalahi perintah Hayamwuruk yang memintanya untuk mempersunting Dyah Pitaloka dengan secara damai. Parahnya, Sang Prabu Hayamwuruk pun tewas karena meratapi nasib Pitaloka yang tidak mampu dimilikinya. Kalangan kerajaan Majapahit pun akhirnya menanggungkan beban kematian sang Raja kepada Gajah Mada. Kemudian, dia melakukan tapa Yoga Samadi dan meminta kepada Wisnu untuk melepaskan dirinya dari pengaruh duniawi.