Mitos Dan Mistis Arah Rumah Menurut Suku Jawa

Arah rumah bagi orang jawa tentunya menjadi perhatian tersendiri. Sehingga tidak jarang jika kita pergi ke daerah Yogyakarta, kita melihat arsitektur bangunan yang menurut kita sedikit sangsi. Semisal area Masjid Mataram. Didepan masjid yang berada di Kota Gedhe ini terdapat tembok penghalang, sehingga pengunjung harus melintasi sisi kanan atau kirinya untuk masuk. Tembok tersebut difungsikan untuk mencegah perkara negatif masuk ke dalam bangunan. Di atas tembok tersebut juga terukir gambar Bathara yang bertugas menjaga pintu. Tidak jarang juga kita menemui arca Dwarapala yang bergerumun, sepasang, atau sendirian dengan posisi setengah jongkok dengan menggenggam senjata gadha.

desain-rumah-joglo-sederhana

Dengan melihat khasanah ini, terbukti bahwa orang Jawa memperhatikan aura keberuntungan dari arah suatu rumah. Pun, menaruh arca supaya aura negatif  ke arah lain. Laiknya seperti Feng Sui ala orang Tiongkok, masyarakat Jawa juga mempunyai perhitungan tersendiri soal hoki dari posisi rumah. Di Jawa, setidaknya terdapat dua cara paling terkenal untuk mengarahkan posisi rumah.

Hitungan neptu dina dan neptu pasaran

Dalam hitungan jawa, terdapat gabungan neptu: hari dan pasaran.  Neptu hari merupakan serapan dari budaya asing dari senin hingga minggu berjumlah tujuh hari. Simbol hari tersebut mempunyai bilangan seperti ahad: 5, senin: 4, selasa: 3, rabu : 7, kamis: 8, jumat:  6, dan sabtu: 9. Sedangkan Neptu pasaran ialah penanda hari milik orang jawa asli yang hanya berjumlah lima. Neptu ini juga mempunyai bilangan simbol, kliwon: 8, legi: 5, pahing: 9, pon: 7, dan wage: 4. Jadi tidak jarang jika orang jawa menyebut seminggu, tapi hanya berjumlah lima hari. Gabungan tersebut dapat diambil dari ayah atau ibu dengan penjumlahan naptu dino dan neptu pasaran: (ahad: 5) + (pahing: 9) = 14. Sehingga arah yang tepat adalah selatan atau timur.Sesuai dengan gabungan neptu penghuni rumah, jika berjumlah :

  1. 7, 8, 13, atau 18 : arah utara atau timur
  2. 9 atau 14 : arah selatan atau timur
  3. 10 : arah selatan atau barat
  4. 11, 15, 16 : arah barat
  5. 12 dan 17 : arah barat atau utara

Meskipun cara ini tidak terang-terangan digunakan oleh masyarakat Jawa yang telah mengalami pusaran modernitas. Namun faktanya, mayarakat jawa masih meyakininya dengan cara menghitung kapan munggah kayu (memasang atap rumah) dengan hitungan ini.

Berpaling dari Dewa Yamadipati

Berdasarkan mitologi Jawa, mereka mengenal dewa-dewa yang menjadi dunia, seperti dewa Indra untuk matahari, dan dewa Candra untuk rembulan. Untuk arah angin pun, terdapat dewa yang menjaga atau lokasi tersebut dipercayai para dewa tinggal.

  1. Arah timur dijaga oleh Maha Dewa
  2. Arah barat dijaga oleh Bathara Yamadipati
  3. Arah utara dijaga oleh Bathara Wisnu, dan
  4. Arah selatan dijaga oleh Bathara Brahma

Berdasarkan kosmologi ini, arah Bathara Yamadipati adalah arah pantangan. Maklum saja, Bathara Yamadipati bermakna Dewa Kematian. Dengan mengarahkan rumah kearahnya, hal ini sama dengan menentang sang dewa maut. Hal ini tentunya dapat merusak hoki penghuni dan tidak jarang membawa keburukan, seperti sering sakit. Sebaliknya, dewa yang membawa kebaikan dan keberuntungan akan dipilih sebagai arah utama. Harapannya, kebahagiaan dan kesenangan akan selalu menaungi rumah tersebut. Meskipun terdapat sebagian orang mulai melunturkannya, namun nyatanya beberapa bagian dari khasanah ini masih dilakoni.