Malam Jumat Kenapa Identik Keangkeran?

Numerologi Jawa sering juga disebut dengan pethung (perhitungan). Ilmu perhitungan ini tidak hanya muncul serta merta, akan tetapi penuh dengan pengamatan, pertimbangan memet (sungguh-sungguh) dengan nalar dan ditandai dengan laku tertentu. Pethungan sendiri bermakna pertimbangan yang jernih yang di dalamnya terkandung kalkulasi dan pertimbangan. Uniknya, perhitungan suku jawa ini berbeda dengan perhitungan budaya lain, karena memasukkan hal-hal irasional dan rasional.

gallery_kuntilanak kesurupan

Orang jawa mengenal neptu dina dan neptu pasar. Neptu pasar merupakan orisinalitas dari suku jawa untuk menamai hari yang berjumalah lima dalam seminggu. Sedangkan neptu dina merupakan kebudayaan menghitung hari sebanyak tujuh hari dalam seminggu. Kemudian keduanya digabungkan menjadi dino limo dino pitu. Ketiga belas neptu tersebut mempunyai bilangan 3 hingga 9. Saat keseluruhan tanda tersebut dipadankan, jumat kliwon bermakna hitungan sakral. Seperti perhitungan hari Jumat kliwon yang kini akrab dengan dunia magis, mistis, dan angker. Malam jumat dianggap sakral bagi suku jawa karena didalamnya terjadi berbagai macam hal. Peristiwa keramat dan suci tersebut terakumulasi terkesan menakutkan.

Arwah nenek moyang kembali pulang

Keangkeran Jumat kliwon tidak terlepas dari tradisi orang  jawa itu sendiri. Mereka percaya bahwa setiap empat puluh hari, arwah pendahulu mereka yang telah terkubur kembali ke rumah. Oleh sebab itu, orang jawa dahulu selalu menyiapkan sesajen di depan rumah, pekarangan, dan juga tempat-tempat tertentu. Mereka menyakini, para leluhur berharap untuk diingat dan dikirimi doa dan dimohonkan ampun atas segala dosanya.

Puncak tirakat

Sejatinya, hitungan hari dalam jawa seminggu hanya ada lima hari, yakni wage, pon, kliwon, pahing, dan legi. Saat orang melakukan tiraat seperti puasa mutih, pati geni, bertapa, dll, kegiatan tersebut akan berakhir pada pasaran kliwon. Saat dipadukan dengan gaya nasional, maka bertepatan dengan malam jumat kliwon. Uniknya, masyarakat jawa juga kerap menyingkat tirakat mereka hanya menjadi 3 hari saja yang dimulai dari rabu wage dan berakhir pada hari jumat kliwon.  Selain itu, upacara penyucian gaman (senajata) bertuah juga dimulai pada malam jumat kliwon.

Bertambahnya kekuatan magis

Adanya kepercayaan bahwa malam jumat kliwon ialah waktu bagi mahkluk ghaib keluar dari sarangnya. Oleh sebab itu, berabagai macam sesajen dan persembahan juga ditaruh pada tempat-tempat tertentu. Sehingga meminimalisir adanya kontak langsung dengan manusia yang menyebabkan kesialan. Beberapa tempat di Jawa yang mempercayai hal ini ialah di Pantai Parangtritis dan Taman Wisata guci.

Pada waktu ini, segelintir orang memanfaatkannya untuk bersekutu dan mencari jalan pintas kepada makhluk adikodrati. Hal yang paling banyak ialah jalan pintas menuju kaya, mendapatkan kewibawaan, dan juga menarik pusaka dari alam ghaib.

Perpaduan budaya

Keampuhan hari jumat sendiri bagi masyarakat jawa tidak dapat terlepas dari pengaruh islam. Agama ini menyakinkan pemeluknya  bahwa malam jumat ialah malam yang memang unggul. Suatu sabda pernah dinyatakan bahwa jumat adalah ummu al-yaum (ibunya hari). Hal ini ditengarai karena adanya kejadian luar biasa pada hari tersebut. Semisal (1) Nabi Adam diciptakan oleh Tuhan, (2) hari datangnya kiamat, dan (3) hari dimana nantinya manusia akan dibangkitkan dari kubur saat hari perhitungan. Khasanah ini digathuk-gathukan (cocokologi) oleh masyarakat jawa yang akhirnya menciptakan keunggulan hari Jumat.

Inilah beberapa mitos yang menjadikan malam jumat kliwon menjadi biangnya keangkeran. Boleh jadi, hal ini juga diperparah dengan berbagai cerita dan film yang dilatorbelakangi oleh malam jumat kliwon.