Kisah Pesugihan Gunung Lawu Yang Melegenda

Pesugihan gunung lawu – Dengan dalih terpepet ekonomi, manusia bisa menjadi kalap mata. Segala cara meraih pundi-pundi uang pun dapat nampak irasional. Salah satunya melakukan ritual pesugihan. Di Nusantara, beberapa tempat yang dianggap mempunyai magnet pesugihan antara lain gunung, hutan, dan laut. Dari ketiganya, gunung ialah tempat yang paling banyak dikunjungi dan dinilai paling angker. Seperti gunung lawu. Gunung lokasinya berada di perbatasan antara jawa timur dan jawa tengah.

lawu

Konon, disana bersarang makhluk astral berbagai rupa warna, dari macan gogor yang melegenda hingga bangsa dhemit seperti kuntilanak, tuyul, genderuwo, hingga wewe gombel. Sebagai salah satu destinasi wisata andalan, tentunya pemkot telah meremajakan dan membuka lahan baru sebagai area wisata. Namun hal ini tidak mengubah citra aura negatif dan juga menyurutkan pendatang untuk mencari sekutu makhluk astral guna mempercepat keinginannya.

Awalnya, ritual ini didahului dengan membawa sesajen khas pesugihan, yakni dupa, ayam cemani, kembang aneka warna, dan juga sesembahan paling berharga milik pemuja. Setelah sesajen ditaruh di dalam gua sekitaran kaki gunung. Sesajen ini ialah awal mereka sebagai bentuk ijin untuk melakukan pendakian ke goa yang lebih tinggi di area puncak gunung.

Ritual mistis yang memerlukan tumbal nyawa

Dengan mendaki secara setapak, pelaku pesugihan akan harus mencapai sebelum tengah malam. Selanjutnya, di dalam gua mereka harus berjampi memohon kepada makhluk halus di sana untuk di datangi. Saat menunggu, pelakon ritual ini harus duduk bersemedi dan memjamkan mata. Jika mereka mendengar suara untuk membuka mata, hal itu adalah ciri si penunggu siap mengabulkan hajatnya. Makhluk yang datang pun bakalan beragam, seperti golongan wewe, dhemit, jin, bahkan siluman.

Di depan makhluk tersebut, mereka dapat mengutarakan maksudnya dan merelakan apa pun yang diminta oleh makhluk ghaib. Mitosnya, pesugihan gunung lawu selalu meminta mahar nyawa alias tumbal dari salah satu keluarga. Untuk menumbalkan seseorang, pelaku akan menyebut namanya. Lebih lanjut, sang dhemit akan membuntutinya hingga mencelakannya. Ujungnya, tumbal tersebut akan mati secara semu. Pasalnya, tumbal tersebut sejatinya dibawa oleh dhemit sebagai budak atau pelayan. Untuk menunjukkan bukti, tumbal yang mati setelah dikebumikan, jasadnya akan berubah menjadi batang pisang atau guling.

Sayangnya, tumbal yang demikian itu bukan sekali dua kali, namun selalu dalam kurun waktu yang telah mereka sepakati. Sebagai konsekuensi apabila pemohon tidak mengabulkan tumbal yang dijanjikan, maka harta yang selama ini telah diberikan akan  berkurang secara drastis.

Menurut tuturan warga sekitar, gunung lawu selalu ramai pada saat malam bertuah menurut penanggalan jawa seperti malam satu suro. Bukti bahwa tempat ini menjadi magnet pejuang pesugihan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dari Jawa Timur telah berhasil menemukan 15 pendaki setelah malam tersebut. Kelima belas orang tersebut mengakui bahwa mereka tersesat di atas gunung lawu karena mencari lokasi pesugihan.

Hajat lain yang bisa terkabul

Selain bisa menjadikan seseorang menjadi kaya raya, ada pula keampuhan pesugihan gunung lawu yang tidak kalah tanding. Hal ini tidak terlepas dari tokoh yang pernah mendiami gunung tersebut. Masyarakat pun membenarkan bahwa puncak gunung Pringgodani Lawu ini pernah digunakan oleh pertapa sakti dari kerajaan yang dibawahi oleh Prabu Brawijaya. Dia terkenal sakti dan selalu jeli untuk menurunkan ilmu seperti kebal dan kanuragan. Namun, saat doa mereka terkabul, sekujur tubuhnya akan ditumbuhi dengan bulu seperti macan dan orang diluar area gunung tidak dapat melihatnya. Bisa dikatakan, jika pemohon datang ke gunung tersebut, wujud aslinya akan terlihat.