Kisah Pengalaman Seram Pak Dayat Saat Menangkap Ayam Waktu Kecil

Sore itu sebenarnya tak terlalu berbeda dengan sore-sore seperti biasanya. Pak ne baru saja kembali dari kegiatan ngarit (mencari pakan untuk ternak) dan meminta segelas teh untuk ibu buatkan disela-sela kesibukannya mempersiapkan dhaharan (makanan) untuk keluarga kami makan malam itu. Matahari sudah mulai merendah diantara ceruk-ceruk pepohonan dan lentik daun-daun yang ditiup angin waktu sore hari yang tampak seolah memanggil-manggil malam untuk cepat datang.

Le, pithik e tulung dilebokne ten kandang yo, wes arep surup (Nak, ayamnya ditangkap dan dimasukkan kandang ya! sudah mau maghrib)” – teriak ibu memberi perintah kepadaku dan saudara-saudaraku.

Aku dan kakak-kakakku segera beranjak untuk menangkapi ayam yang tengah berkeliaran diluar kandang untuk dimasukkan ke dalam kandang. Karena ayam-ayam tersebut rawan dimangsa oleh musang atau luwak dan hewan sejenisnya bila tidak dimasukkan kedalam kandang di malam hari. Aku sebagai yang paling kecil bertugas untuk menangkap piyik (anak ayam) sedangkan saudara-saudaraku yang lebih besar menangkap ayam yang lebih besar seperti jago dan babon (ayam betina).

Kami membawa semacam karung kecil untuk menempatkan ayam-ayam tangkapan kami tersebut agar tidak terlalu kewalahan dalam membawanya kembali ke kandang. Kakak-kakakku dengan cekatan menggiring kemudian menangkap ayam-ayam tersebut dan kemudian memasukkannya kedalam karung. Sedangkan aku mengejar ayam-ayam kecil yang berlari disekitarnya dengan mudah.

Keluarga kami memiliki ayam jago sejumlah lima ekor dan ayam betina sekitar sembilan ekor. Total anak ayam yang ada sekitar dua belas ekor. Dan bersamaan dengan adzan maghrib berkumandang, kami telah selesai menangkap semua ayam-ayam kami. Kakak-kakakku dan aku menenteng karung yang berisi ayam tersebut kembali ke kandang dan memasukkannya. Jumlahnya sudah sesuai. Akupun segera masuk ke rumah, mencuci kaki dan bersiap untuk berangkat ke surau yang dekat dengan rumah kami. Ketika aku hendak keluar bersama kakak-kakakku menuju mushola, aku mendengar bisa mendengar satu suara misterius yang sayup-sayup terdengar di telinga.