Kisah Nyata Misteri Selama Kuliah (Bagian 5)

KKN di Tempat Terpencil yang Angker

kkn di desa terpencil nan angker

Saat semester 6, Anto melakukan KKN. Sama seperti saya, saya juga KKN dan ditempatkan di daerah terpencil. Bedanya, saya KKN di Gunungkidul sedangkan Anto di Kulon Progo. Dengan 10 orang dalam 1 kelompok KKN, Anto dan teman-temannya tinggal di sebuah tempat yang katanya masih milik bapak dukuh setempat. Konon, awalnya itu dijadikan gudang pedukuhan. Namun karena alas an tertentu yang bapak dukuh sendiri tidak mau menjelaskannya, akhirnya tempat tersebut dikosongkan dan gudan pedukuhan dipindah di tempat lain.

Bagi banyak orang, KKN adalah pengalaman yang luar biasa selama masa kuliah. Begitupun denganku yang merasa sangat bahagia selama KKN. Selain memiliki teman baru, KKN juga menyimpan banyak sekali cerita yang tak kan terlupakan. Bahkan, banyak sekali temanku yang menemukan pacar baru selama KKN. Ada juga yang akhirnya sekarang menikah yang mana awal dipertemukan jodoh mereka adalah saat KKN. Sungguh indah cerita KKN bagi kebanyakan mahasiswa. Namun mungkin tidak untuk Anto.

Dalam 1 kelompok KKN, kelompok Anto terdiri dari 4 orang mahasiswa dan 6 orang mahasiswi. Mereka tidur di kamar yang terpisah antara mahasiswa dan mahasiswi namun masih tetap satu tempat, yaitu di bekas gudang pedukuhan tadi. Malam pertama kali mereka tidur di tempat tadi, mereka tidak merasakan apa-apa. Tidak ada kejadian aneh yang mereka alami, bahkan mereka semua tidur dengan pulas. Mungkin karena sking capeknya, hingga mereka semua sudah tertidur saat baru pukul 9 malam.

Keesokan harinya, ada seorang warga yang bertanya kepada Anto dan kawan-kawan, “Ditekani po ra mas, mbak?” Dalam bahasa Indonesia artinya “Didatangi atau tidak mas, mbak?” Anto dan teman KKN nya bingung. Bukan bingung karena tidak bias bahasa Jawa. Hampir semua anggota kelompok KKN Anto berasalh dari Jawa, hanya ada 1 mahasiswi yang berasal dari luar Jawa yaitu dari Makasar. Mereka semua bingung karena pertanyaan warga tadi yang aneh di mana tiba-tiba ia bertanya seperti itu.

Tiga hari KKN mereka lewati tanpa ada masalah apapaun. Bahkan mereka sudah mulai akrab dengan warga sekitar dan memperkenalkan program-program yang akan mereka laksanakan di kampong tersebut. Saat itu, pada malam Jumat ada acara kumpulan Karang Taruna. Semua anggota KKN ikut dalam kegiatan kumpulan karang taruna tersebut. Acara tersebut selesai sekitar pukul 10 malam. Namun, sekali lagi ada yang membuat bulu kuduk berdiri karena ada seorang warga yang tiba tiba mengucapkan terimakasih.

“Terimakasih mas dan mbak KKN karena ditempati kalian mantan gudang pedukuhan yang dulunya angker sekarang sudah tidak lagi”, begitu kira-kira kata salah seorang warga tadi. Mendengar ucapan seorang warga tadi, sontak saja Anto dan kawan-kawan teringat ucapan oleh seorang warga waktu itu yang menanyakan apakah mereka didatangi atau tidak. Mungkin maksud orang itu pada waktu itu apakah Anto dan teman-temannya didatangi hantu atau tidak.

Karena ucapan tersebut, Anto yang memang dipilih teman-temannya untuk menjadi ketua KKN merasa takut. Teman-temannya juga sama, mereka tidak bias tidur sesampainya di kamar. Meskipun sebelumnya belum pernah ada makhluk halus yang mengganggu mereka namun seketika mereka menjadi tidak tenang gara-gara ucapan warga tadi. Sekitar pukul 11 malam, mereka semua berusaha untuk tidur, sambil berdoa semoga tidur mereka nyenyak seperti biasanya. Mereka berusaha melupakan ucapan-ucapan warga tadi dan menghilangkan rasa takut mereka.

Namun, ternyata ucapan tadi sudah terlanjur membuat mereka terlalu takut hingga terus menerus kepikiran. Hingga tengah malam, ternyata belum ada seorangpun dari mereka yang tertidur. Tiba-tiba ada suara sesuatu yang jatuh. Kedengarannya seperti piring yang jatuh di dapur. Lantas saja anggota KKN yang perempuan menjerit ketakutan. Akhirnya mereka bersama-sama menuju dapur meski dalam keadaan takut. Ternyata tidak ada apa-apa, padahal sangat jelas terdengar ada piring yang pecah terjatuh ke lantai.

Kemudian mereka kembsli ke tempat tidur. Semua lampu dinyalakan, tidak seperti biasanya saat mau tidur lampu dimatikan. Mereka mulai merasa takut dengan keadaan di tempat yang mereka tinggali. Akhirnya, mereka memutuskan untuk tidur dengan pintu kamar terbuka dan lampu menyala semua. Namun, lagi-lagi terdengar suara yang mengagetkan. “DOORR!” Terdengar suara pintu yang tiba-tiba menutup dengan sendiri dan sangat keras. Karena saking takutnya, anggota KKN yang perempuan ada yang menjerit bahkan ada yang menangis sedangkan yang laki-laki ada juga yang teriak. Anto sebagai ketua KKN mencoba menenangkan teman-temannya meskipun ia juga sebenarnya takut.

Tak lama kemudin, ada beberapa warga yang datang ke lokasi tempat yang ditinggalai anggota KKN Anto dan teman-teman ini. Kemudian, Anto mewakili seluruh teman-temannya menceritakan apa yang baru saja ia alami. Setelah bercerita, mereka merasa lebih tenang. Para warga yang sedang piket ronda pun ikut menjaga di dekat tempat tersebut, berjaga-jaga bila terjadi apa-apa. Akhirnya, Anto dan teman-teman semua bias tertidur.

2 hari kemudian, muncullah kejadian yang menghebohkan lagi. Waktu itu, Anto dan seluruh anggota KKN sedang tertidur lelap. Karena tempat tersebut adalah bekas gudang dan pos ronda milik pedukuhan, maka masih ada kentongan yang dulunya digunakan untuk “woro-woro” atau memanggil warga untuk pengumuman. Ketika sedang terlelap, tiba-tiba terdengar suara kentongan dengan keras. Anehnya kentongan itu berasal dari depan bekas gudang pedukuhan tersebut di mana kentongan tergantung. Padahal kalau pos ronda dan gudang di kampong itu sudah pindah ke lokasi yang jaraknya sekitar 100 meter dari bekas gudang itu.

Sontak saja hal ini membuat warga berdatangan. Ada yang masih dengan mata mengantuk, masih berselimut, hanya memakai sarung dan lain sebagainya ramai-rami berdatangan ke lokasi tersebut. Begitu juga dengan Anto dan seluruh anggota KKN yang juga segera bergegas menuju keluar. Seluruh anggota KKN dan warga sama-sama kebingungan, ada apa gerangan kenapa kentongan yang sudah lama tak digunakan itu dibunyikan.

Anto dan kawan-kawan mengira yang mengetuk kentongan adalah warga yang sedang bertugas ronda sedangkan warga mengira kalau Anto atau teman KKN lainnya lah yang membunyikan kentongan tersebut. Dan setelah ditanya satu persatu ternyata taka da seorangpun yang membunyikannya. Anto dan seluruh anggota KKN tengah tertidur pulas tadi sedangkan warga yang bertugas ronda sedan asik maun catur di pos ronda yang baru. Lalu siapa yang membunyikan kentongan tengah malam?

Masih di masa KKN, kejadian misteri yang dialami oleh Anto ternyata belum selesai. Anto yang saat itu tengah ke kamar mandi tengah malam tiba-tiba kesulitan membuka pintu kamar mandi. Karena teman yang lain sedang tertidur, Anto yang katakutan di dalam kamar mandi lantas menggedor-gedor pintu kamar mandi yang tidak bisa terbuka tadi. Dari luar, salah seorang temannya segera membuka pintu kamar mandi tersebut dan ternyata tidak dikunci & mudah dibuka. Jelas saja ini membuat Anto takut karena tadi ia memang merasakan sendiri kalau pintu kamar mandi tersebut tidak bias terbuka.

Sial benar nasib Anto dan kawan KKN nya, mereka disediakan tempat tinggal yang angker. Mungkin ini menjadi kejadian menyeramkan yang terakhir di masa KKN Anto dan teman-temannya. Naasnya hanya Anto seorang yang mengalami hal ini. Waktu itu, sekitar sore hari Anto sedang berbalas pesan dengan teman sekelasnya yang ternyata lokasi KKN nya tidak jauh dari lokasi KKN Anto. Temannya tersebut katanya ingin mampir ke tempat lokasi KKN Anto. Tentu saja Anto senang karena akan lebih banyak teman di sana.

Sekitar pukul 7 malam, Anto dan teman-temannya sedang makan malam di dalam tempat yang ditinggali mereka. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Anto yakin jika itu adalah temanya yang katanya ingin mampir tadi. Langsung saja Anto menuju ke depan dan membukakan pintu. Sebelum membuka pintu, Anto mengintip dari balik jendela dulu. Alangkah terkejutnya saat yang terlihat adalah sesosok pocong yang berdiri tegak di depan pintu. Untung saja Anto tidak membuka pintu langsung. Jika iya, mungkin ia sudah pingsan.

Melihat sesosok hantu pocong yang  baru kali ini ia lihat, Anto lantas lari menuju teman-temannya. Teman-temannya yang lebih penakut dari Anto sontak gaduh dan takut tak karuan. Ada yang teriak, menangis, berdoa, bahkan ada yang seperti orang gila saking takutnya. Anto segera menelpon ketua RT setempat dan mengabarkan apa yang baru saja ia lihat. Tak lama kemudian pak RT dan beberapa warga datang ke lokasi dan menenangkannya.

Ternyata temannya Anto tidak jadi datang ke loksai KKN Anto. Beruntung sekali nasib temannya tersbut. Kalu jadi, mungkin saja ia yang akan jadi korban keusilan hantu penunggu bekas gudang tersebut.

Setelah itu, pak RT segera menghubungi pak Dukuh dan mendiskusikan solusinya. Namun, belum ada tempat lain selain bekas gudang pedukuhan itu untuk ditempati. Karena merasa kasihan, pak RT segera menghubungi adiknya yang memang memiliki rumah cukup besar dan hanya ditinggali berdua dengan istrinya. Ternyata adiknya pak RT tersebut mau untuk menerima seluruh anggota KKN untuk tinggal di rumahnya hingga masa KKN selesai. Di sana mereka bias tidur dengan tenang hingga masa KKN usai.

Saat perpisahan, warga yang diwakili kepala dukuh dan ketua RT menyampaikan permohonan maafnya karena tidak bias menyediakan tempat tinggal yang layak dan aman selama KKN di kampungnya. Tak lupa Anto dan teman-temannya juga menyampaikan terimakasih kepada adik ketua RT setempat yang sudah “menyelamatkan” nasib mereka. Benar-benar KKN yang tak terlupakan, bukan karena kenangan indahnya namun karena kenangan horornya.