Kisah Horor Nyata: Pesta Kuntilanak di Kismoyoso, Boyolali

Ada satu cerita yang cukup menggemparkan terjadi didusun Kismoyoso, Boyolali beberapa bulan lalu. Kebetulan tim Hantupedia mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan satu kisah horor nyata dari penuturan satu warga kampung tersebut.

kisah horor nyata-pengalaman-mistis-misteri-pesta-kuntilanak-dan-makhluk-gaib-di-kuburan-kismoyoso-boyolali

Kismoyoso itu sendiri sebenarnya adalah nama satu daerah terpencil di daerah Boyolali. Sahabat Hantupedia bisa mencapai daerah itu dengan melewati dua jalan utama, yakni jalan Raya Solo-Purwodadi kemudian putar balik setelah mencapai Gondang rejo atau area selanjutnya dengan menyeberangi jalur rel kereta. Atau anda juga bisa memakai jalur Jalan Pandeyan kearah utara dengan ancer-ancer belokan ke kiri daerah Jl. Ngemplak.

Secara topografis daerah itu memang masih dikelilingi oleh pohon-pohon dan ladang yang cukup rimbun. Letaknya yang berada di utara bersimpangan dengan jalur truk ini tidak bisa disangkal memberikan kesan yang mistis.

Sebut saja mas Mamad (nama samaran). Ketika sedang asyik wedangan disalah satu angkringan di kota Boyolali, dia menceritakan satu cerita mistis yang baru-baru ini terjadi, yakni “pesta kuntilanak” di daerah yang cukup terpencil bernama Kismoyoso itu.

Dua pedagang sate yang tersesat

Kisah horor nyata ini bermula ketika suatu malam yang sangat sunyi di daerah Kismoyoso ada dua orang pedagang sate keliling (kakak beradik) yang mencoba menjajakan satenya didaerah itu. Sumber percaya bahwa kemungkinan besar mereka bukan berasal dari daerah itu atau ingin mencoba mengambil jalur lain untuk berdagang sate atau kesasar. Alasan kenapa narasumber bisa berpendapat demikian adalah karena di daerah itu memang sudah sangat sepi mulai diatas jam 5 sore.

Entah kenapa penduduk disekitar situ selalu lebih memilih tinggal didalam rumah setelah lewat jam 5 sore, daripada keluar rumah. Bukan hanya karena memang daerah itu terkenal angker, namun juga karena daerah itu masih minim penerangan dan jarak antara rumah satu dan lainnya cukup jauh. Sampai-sampai bila ingin pergi dari satu rumah ke rumah yang lain, seseorang harus melewati ladang yang cukup luas dan pepohonan yang rimbun. Namun, kedua pedagang sate itu lewat di daerah itu sekitar pukul 1 dini hari.

Wanita yang memesan 200 bungkus sate

Narasumber bercerita tentang kisah horor nyata ini bahwa dalam perjalanan dua orang kakak beradik penjual sate itu, tiba-tiba ada seorang wanita yang memanggil-manggil mereka. Namun entah kenapa hanya sang kakak penjual sate itu saja yang mengetahuinya. Adik yang ikut menemani berjualan sate kakaknya itu tidak bisa mengetahui dimana sosok orang yang memanggil kakaknya tersebut.

Mengira kalau wanita yang memanggilnya tersebut adalah pelanggan yang ingin membeli sate, datanglah sang kakak ke tempat wanita tersebut. Sedangkan sang adik masih dalam perasaan bingung. Setelah beberapa saat, sang kakak kembali kepada adiknya sembari berkata kepada adiknya untuk tinggal sebentar, sedangkan kakaknya akan membawa serta gerobak sate ketempat pelanggan yang tadi memanggilnya itu.

Masnya yang pedagang sate itu bilang katanya satenya diborong buat acara makan-makan syukuran bersama satu kampung, tapi masnya itu menyuruh adiknya untuk menunggu disitu, baru ketika nanti bila kakaknya butuh bantuan untuk melayani pembeli, dia akan memanggilnya – kata narasumber berusaha menuturkan apa yang terjadi.

Sang kakak yang tak kunjung kembali dan kecurigaan sang adik

Tanpa ada ras curiga, sang adikpun kemudian menuruti perintah kakaknya untuk menunggu panggilan kakaknya. Dengan ditemani Handphone yang bisa menampilkan acara TV, sang adikpun menunggu. Namun hingga acara televisi yang ditonton adiknya itu usai, dia tidak mendengar panggilan dari kakaknya. Dia menjadi cemas dan curiga.

Sang adikpun kemudian memutuskan untuk menyusul kakaknya ke arah tempat yang tadi dituju olehnya. Sang adik terus berjalan dan berjalan, tanpa sadar ketika dia berjalan dan melihat sekeliling area yang dia lewati. Sontak dia sangat terkejut karena ternyata dirinya sudah berada ditengah-tengan lahan pekuburan yang cukup luas. Merasa ketakutan, sang adikpun berlari tunggang langgang ke arah pemukiman warga yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi tersebut.

Pencarian sang kakak yang tak kunjung usai

Sesampainya dia dipemukiman warga dengan terengah-engah dia menggedor-gedor beberapa rumah warga terdekat untuk meminta pertolongan. Beberapa warga terbangun karena kegaduhan itu. Termasuk narasumber yang waktu itu rumahnya berjarak 20 meter dari rumah yang digedor sang adik pedagang sate tersebut.

Tolong pak, tolong kakak saya hilang … tadi ada yang memanggil dari arah sana dan ternyata kuburan, saya takut – ucap narasumber mencoba menirukan apa yang dikatakan sang adik kala itu

Beberapa warga mencoba menenangkannya dan menganjurkan untuk menunggu sampai subuh tiba baru mereka akan mengerahkan warga-warga untuk mencari kakaknya. Singkat cerita setelah usai adzan Subuh pencarian pun dilakukan bersama-sama. Setiap sudut ditelusuri oleh warga. Namun, sayangnya kakak dari sang adik penjual sate itu tidak bisa ditemukan. Warga pun kemudian memutuskan untuk menunggu sampai fajar muncul.

Tepat pukul 6:30 pagi, warga mulai melakukan lagi pencarian. Namun anehnya mereka tidak menemukannya. Hingga pukul 9:00 pagi, ada satu warga yang berteriak “neng kene pak! ketemu!” (disini pak, ketemu).

Kakak penjual sate itu ditemukan tak sadarkan diri tergeletak diatas sebuah kuburan bersama gerobak sate dan barang dagangannya yang berserakan dimana-mana. Warga pun kemudian menolongnya dan mencoba membuatnya sadar. Setelah sadar kakak penjual sate itu memeriksa kantongnya dan menemukan banyak sekali daun nangka yang menurut keterangannya adalah uang yang diberikan oleh pelanggannya tadi malam. Kisah horor nyata ini kemudian banyak diperbincangkan warga sekitar.

Lokasi ditemukannya kakak penjual sate itu adalah dipenghujung lahan kuburan di daerah dusun tersebut. Banyak pohon-pohon jati dan dipinggir kuburan itu mengalir satu anak sungai kecil yang ditumbuhi pohon bambu yang cukup lebat.

*Mohon maaf, nama dusun terkait tidak kami cantumkan karena permintaan narasumber