Kisah Cinta Perih dalam Cerita Rakyat Nisan Berdarah di Martapura

Hubungan cinta sembunyi-sembunyi yang akhirnya diketahui

Biar bagaimanapun pintarnya seekor tupai meloncat dari satu pohon ke pohon lainnya. Pastilah jatuh juga suatu saat. Lambat laun orang tua dari Fatimah mengendus gelagat dari anak perempuannya itu. Betapa murka orang tua Fatimah ketika mengetahui bahwa anaknya menjalin cinta dengan pembantu rendahan. Fatimah berkilah bahwa dirinya jatuh hati kepada Mashor karena karakter dirinya yang baik dan sholeh. Namun, orang tua Fatimah tetap tidak pandang bulu. Karena sesuai tradisi, orang dengan derajat tinggi harus menikah dengan orang yang setara dengannya.

Tak lama setelah hubungan cinta mereka diketahui. Akhirnya orang tua Fatimah memutuskan untuk memisahkan mereka berdua. Mashor yang awalnya adalah pembantu di rumah besar mereka kemudian dipindahkan untuk bekerja di kebun karet yang berada diseberang sungai kediaman mereka. Mereka tidak diberi kesempatan sedetikpun untuk bertemu. Dengan harapan cinta mereka akan pudar seiring berjalannya waktu.

Perjodohan Fatimah dengan Saudagar kaya dari pulau seberang

Di perkebunan karet itulah Mashor bekerja dan tinggal di sebuah gubuk kayu tua. Meski terpisah cukup jauh, dirinya masih bisa menanyakan keadaan Fatimah melalui Acil (pengasuh Fatimah sejak kecil) bernama Ijah yang sering mampir ke pondoknya. Hingga suatu ketika ada seorang saudagar kaya bernama Muhdar yang singgah di kediaman saudagar kaya tersebut. Muhdar merupakan pedagang kenamaan yang kaya raya dari pulau sebelah. Ternyata dia juga menaruh hati pada sosok Fatimah yang cantik jelita, hingga kemudian dia meminangnya.

Orang tua Fatimah yang melihat Muhdar sebagai orang kaya langsung menyetujui lamaran tersebut dengan syarat dia harus melangsungkan pernikahan yang mewah. Hal itu tidak menjadi masalah untuknya. Fatimah gundah. Dia memiliki cinta kepada orang yang dia cintai, yakni Mashor, sedangkan dia dijodohkan kepada Muhdar oleh orang tuanya. Dia sempat menolak, namun pada akhirnya pasrah dengan keputusan orang tuanya tersebut.

Prosesi pernikahan nan megah pun kemudian dilaksanakan di kediaman tersebut beberapa hari kemudian. Pesta besar-besaran dilakukan. Tampak wajah Muhdar berseri-seri bahagia, sedangkan Fatimah disisinya memenuhi wajah cantiknya dengan perasaan haru dan kesedihan mendalam. Tiada seorangpun yang diperbolehkan memberitahukan tentang pernikahan itu kepada Mashor di seberang. Dia tetap bekerja keras di kebun karet dengan berlumur peluh tanpa tahu bahwa kekasihnya akan jatuh ke pelukan orang lain.