Hantu Wanita Berlumur Lumpur di Cermin Koridor

Malam hari ini dan seterusnya di rumah besar dengan arsitektur kuno ini akan berubah total. Bukan karena aku baru saja mengganti skema kertas dinding dari motif yang awalnya kotak-kotak dengan model klasik penuh ukiran berlandaskan seni berwarna cokelat gelap. Bukan pula karena beberapa waktu yang lalu aku baru saja membeli beberapa perabot rumah yang sempat membuat bulatan angka nol di rekening tabunganku semakin hilang bergulir dari layar atm ketika aku memeriksa jumlah saldo tabunganku. Namun, mulai sekarang rumah ini akan terasa berbeda karena Mama sudah tidak ada.

Mama sudah lama menderita penyakit kanker dan aku tahu betul betapa tahun demi tahun berlalu dengan dirinya yang terus bertahan bergelut dengan penyakitnya itu. Pesan mendiang Papa untuk Mama dipenghujung hayatnya-lah yang menguatkan hati Mama untuk tetap teguh bertahan.

Jagain adek, sampai dia menemukan orang yang baik untuknya

itulah pesan Papa kepada Mama yang berlinang air mata tak rela beberapa tahun silam. Dan tak terpaut lama beberapa bulan setelah aku akhirnya menikah dengan Andika suamiku, Mama menghela nafas terakhirnya. Dan untuk beberapa malam ini mataku seolah tak mau menutup, meski rasa kantukku sudah menjadi-jadi. Entah apa yang terjadi.

Seingatku malam itu sekitar pukul 1 dini hari. Aku yang masih terjaga di atas tempat tidurku merasa kehausan. Suamiku terbaring nyenyak disampingku. Akupun kemudian turun kelantai satu rumah kami, menuju dapur untuk menenggak air mineral dingin yang kusimpan di dalam kulkas. Untuk berjaga-jaga agar aku tidak mondar-mandir naik turun aku membawa botol air mineral itu keatas bersama satu gelas. Perlahan kunaiki satu demi satu anak tangga menuju lantai atas.

Kamarku berada di ujung sayap selatan. Dimana untuk kembali kesana, aku harus menyusuri satu lorong koridor yang tidak terlalu panjang. Tepat di ujungnya ada sebuah cermin tua peninggalan keluarga yang terpampang tegap di muka dekat pintu masuk kamarku. Tak ada yang menimbulkan kecurigaan pada awalnya dan kususuri inci demi inci koridor hingga sampailah aku di depan pintu.

Ketika aku hendak masuk ke kamar tidurku, aku melihat satu bercak abu-abu basah di permukaan cermin tersebut. Kuperhatikan dengan seksama sembari mengarahkan seka kain lengan piyama yang kukenakan untuk membersihkannya. Nodanya masih basah. Noda itu adalah noda lumpur yang entah kenapa bisa berada disana.

Huuu… huuuu…huuuu… 

Sekilas kudengar satu suara tangis seorang wanita. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak bisa menemukan apapun. Dalam keadaan koridor yang gelap itu, aku mencoba mempertahankan kewarasanku. Tiba-tiba mataku tertuju kepada satu refleksi yang ada dibalik cermin tadi. Ada sebuah sosok wanita yang tampak dari belakang. Dia telanjang dan tubuhnya berlumuran lumpur. Dia terus menangis terisak kemudian menolehkan wajahnya menatapku! Dia menatapku dengan matanya yang berkaca dan tenggorokan yang tersayat mengeluarkan alir darah segar!