Gangguan Gendruwo Di Kos: Lampu Cepat Mati Belum Tentu Rusak

Terlepas dari pro dan kontra, kalau kita tidak munafik untuk menghindari prasangka ‘otak tumpul’, di era modern seperti ini kita masih disenang dengan perkara back to basic. Masih gemar menggunakan budaya horoskop, aji gothak-gathuk (cocokologi), klenik dll. Tapi mau dikata apa, kita memang mengakui bahwa ada kekuatan lain selain manusia itu sendiri. Seperti kejadian yang pernah penulis alami saat bekerja di salah satu Bimbingan Belajar di Jl Magelang Yogyakarta di tahun 2014. Saat itu, penulis memilih untuk di belakang stasiun TVRI karena lebih dekat dan biaya disana cukup murah.

dsc0000129

Kosku terdiri dari dua lantai yang berisi lima kamar di setiap lantainya. Kedua lantai ini dihubungkan dengan anak tangga yang diterangi oleh lampu. Di sana juga ada dua kamar mandi di bawah dan satu kamar mandi di atas. Sebelum tahu cerita ini, siapapun yang naik tangga menuju ke lantai atas, bulu kuduknya akan berdiri. Indikasi adanya yang tidak beres. Tapi aku hanya menganggapnya angin lalu. Maklumlah, aku masih baru di kos tersebut. Mungkin hanya firasat penyesuaian dengan lokasi baru.

Saat aku ngekos di sana, lampu penerangan tangga memang mati dan terpaksa diterangi dari lampu toilet. Tapi beberapa bulan ini, ketua kos, anak semester enam, meminta uang kas untuk  membeli perkakas sekalian lampu untuk anak tangga. Namun sayang, lampu hanya berumur dua minggu-an. Kejadian ini berulang hingga tiga kali. Bahkan dua kali terakhir ditulisi tanggal pembelian. Namun sama saja, lampu tetap mati. Terakhir ini, aku yang membelinya pasca di-sms temanku dan akan diganti uangnya dari kas. Dia belum balik dari kerja paruh waktunya di warung kopi daerah Gedung Kuning, Yogyakarta, yang menurutnya bisa sampai pukul 3.00 pagi.

Jam kantor selesai, aku dan teman-teman Bimbel karaokean di daerah Ring Road utara hingga jam 12.00 lebih sedikit. Lagipula, esok hari bertepatan hari buruh nasional, aku bisa tidur seharian setelah bergadang semalaman. Dengan menaiki motor, aku berhenti di Indomart dan membeli lampu Philip dengan harga selangit. Sampai di kos, suasana sudah sepi. Anak-anak sudah pada tidur dan seperti biasa, zona tangga selalu lebih redup.

Cahaya masuk hanya bias lampu dari lantai dua dan parkiran lantai satu. Bergegas, aku segera mengganti lampu dengan menaiki tangga. Beres-semua nampak perfect-kecuali bulu kuduk kembali berdiri. Kemudian aku turun dan menyalakan lampu melalui saklar yang ada disamping kamar mandi. Tapi lampu tak menyala juga. Aku naik lagi memeriksa lampu. Nihil. Lampu yang sudah aku coba di lokasi pembelian benar-benar menyela terang, kini mati. Aku pun berdiri di bawah lampu dan melihatnya dengan bantuan senter HP dan mengumpat.

’Le, lampune gak murip?’ Terdengar suara sedikit parau dan tersengal.

Aku pun menjawab singkat,’inggih mbah’.

Sesaat menjawab, kakiku merasa lemas dan pupil mataku terasa membesar. Menyadari kalau tidak mungkin ada pria tua di kosku. Setelah beberapa detik, aku yakin itu bukan manusia. Aku berjalan perlahan tanpa bicara apapun. Masih bergaya semua tidak ada masalah. Aku berjalan perlahan dengan pusaran darah di jantung memacu cepat. Sedikit demi sedikit aku keluar dari zona tangga dan menuju ke parkiran motor tanpa berani menghadap ke belakang. Akhirnya aku memilih tidur di warung kopi daerah selokan mataram. Hingga pagi, aku kemudian kembali ke kos dan berencana untuk pindah lokasi. Sebelum pindah dan berjanji tidak mengatakannya pada anak kos, Pak Kos pun mengiyakan kalau di zona tangga itu dulunya ada pohon kelapa dan ditunggu oleh Genderuwo yang dulu suka mengganggu warga.